Selamat Kepada Om Tengku Febri Sebagai Ketua Regional AVOID Jakarta periode 2025 - 2027 semoga guyub dan solid selalu Regional Jakarta, Amin. | Avanza Owners Indonesia (AVOID) Regional Jakarta lahir dikarena untuk membangun silahturahmi dan memberikan tempat bagi pengguna Avanza. Kemudahan informasi mengenai Avanza dan acara serta segala informasi yang berkaitan dengan avanza sebagai hal yang penting yang kami utamakan bagi para pemilik Avanza dari gen1, gen2, gen3 dan gen4.

Monday, December 1, 2025

Kebiasaan Sepele yang Bikin Pelek Mobil Cepat Rusak

JAKARTA, KOMPAS.com – Banyak pemilik mobil mengira bahwa kerusakan pelek terjadi karena kualitas produk yang buruk. Padahal, ada kebiasaan sepele yang justru menjadi penyebab utama kerusakan pelek, baik itu pelek orisinal maupun pelek aftermarket dengan harga yang mahal. Hal ini disampaikan oleh Taufik, pemilik Dinamis Jaya Pelek dan Ban, yang sering menangani pelek bengkok, retak, hingga pecah akibat kesalahan pengguna. Baca juga: Pameran Otomotif Ini Jadi Momen Tepat Beli Mobil Baru di Akhir Tahun “Pertama, pemakaian yang kasar melewati jalan rusak. Kemudian, tekanan angin juga kurang. Mau pelek ori atau lokal, kalau pemakaiannya kasar tetap rusak juga. Saya pernah menangani pelek Rp 80 juta yang rusak juga,” ujar Taufik saat ditemui Kompas.com di Jakarta Barat, Senin (17/11/2025).

Menurut Taufik, kebiasaan jarang mengisi angin ban adalah masalah yang sering disepelekan oleh pemilik kendaraan.

Padahal, tekanan angin yang tidak sesuai membuat pelek bekerja lebih keras saat melewati jalan yang tidak rata. “Tekanan angin paling penting dan berpengaruh. Kebiasaan orang kita malas untuk mengisi angin. Padahal itu potensi, apalagi kalau pakai pelek besar dan ban tipis. Minimal isi anginnya 50 psi. Beda dengan mobil biasa yang 32, 35, 36 psi,” kata Taufik. Ban dengan tekanan rendah akan membuat dinding ban lebih mudah tertekan saat menghantam lubang, sehingga benturan langsung diterima oleh pelek. Kondisi ini memperbesar risiko pelek bengkok, peyang, bahkan retak. Banyak yang mengira pelek mahal memiliki daya tahan lebih tinggi. Faktanya, Taufik menegaskan bahwa harga tidak menjamin keawetan jika cara pemakaiannya salah. “Mau pelek ori atau lokal, kalau pemakaiannya kasar tetap rusak juga. Saya pernah menangani pelek Rp 80 juta yang rusak juga, karena kebiasaan itu tadi,” kata dia. Selain tekanan angin, gaya berkendara yang terbiasa menghajar jalan rusak atau speed bump dengan kecepatan tinggi juga mempercepat kerusakan pelek.

Setiap benturan keras akan menimbulkan deformasi, apalagi jika diameter pelek besar dan profil ban tipis. Dalam jangka panjang, kerusakan yang dibiarkan bisa membuat pelek sulit diperbaiki atau bahkan tidak bisa direstorasi sama sekal




No comments:

Post a Comment